Debt Collector PT. Radana Bhaskara Finance Tbk Dilaporkan Ke Polisi

Akibat Merampas Motor Di Jalan

Wartapos, Surabaya
Lagi lagi debt collector berulah di jalanan,dan seringnya mengambil paksa kendaraan tanpa disertai aturan FIDUSIA yang berlaku atau sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor:130/PMK.010/2012

Kantor PT RADANA BHASKARA FINANCE Tbk
Kantor PT RADANA BHASKARA FINANCE Tbk

Tentang kewajiban perusahaan multifinance :
Menurut Pasal 1 PMK No. 130/PMK.010/2012, Perusahaan Pembiayaan yang melakukan pembiayaan konsumen untuk kendaraan bermotor dengan pembebanan jaminan fidusia wajib mendaftarkan jaminan fidusia dimaksud pada Kantor Pendaftaran Fidusia, sesuai undang-undang yang mengatur mengenai jaminan fidusia (pasal 1).
Ditambah dengan peraturan Kapolri No.8 Tahun 2011 Tentang Debt Collector dan Perusahaan Pembiayaan atau Leasing.
Bahwa YANG BERHAK MENGEKSEKUSI ADALAH PETUGAS YANG BERWENANG MENGEKSEKUSI SETELAH MELENGKAPI PERSYARATAN PELAKSANAAN EKSEKUSI ANTARA LAIN :

  1. LEMBAGA PEMBIAYAAN MENGAJUKAN PERMOHONAN EKSEKUSI PADA POLRI.
  2. MEMPUNYAI AKTA JAMINAN FIDUSIA (AKTA NOTARIS)
  3. TERDAFTAR DI KANTOR PENDAFTARAN FIDUSIA (DEP-KUM-HAM)
  4. MEMPUNYAI SERTIFIKAT JAMINAN FIDUSIA.

Kronologis singkat, sepeda motor jenis vario berwarna putih dengan nomor polisi L 6700 QW milik Agus Solikhin (41) yang bertempat tinggal daerah Tambak Segaran Surabaya.
Saat di pakai oleh anaknya Khoirotun Hisan yang masih pelajar pada kamis 13/4,lalu motor di rampas oleh tiga orang debt collector di sekitar jalan Ir Soekarno 407-409 dan di bawa paksa kekantor PT Radana Bhaskara Finance di Ruko Wisma Kedung Asem blok AA Surabaya,hari itu juga kantor digeruduk puluhan wartawan serta di laporkan ke polresta Surabaya dengan Laporan Polisi Nomor :STTLP/B/295/IV/2017/SPKT/RESTABES SBY.

Agus selaku korban mengungkapkan kekecewaannya pada wartapos,”Tindak pelaku debt collector tersebut seenaknya merampas motor yang lagi di bawa oleh anak saya yang masih pelajar,dan perlu di tindak tegas oleh kepolisian karena melanggar hukum dan juga para debt collector pun sering mengincar setiap kendaraan lewat dengan nongkrong di pinggir jalan sambil memegang note book/laptob kadang sambil mereka jalan”katanya.
Agus menambahkan bahwa padahal dirinya sudah membayar angsuran selama kurang lebih 12 bulan yang data angsurannya serta surat laporan polisi berikut laporan ke SATRESKRIM juga di berikan ke wartapos.

Selain itu merasa sangat kecewa karena anaknya yang menjadi korban di giring ke kantor Radana,serta di paksa untuk menandatangani berkas dan menyerahkan motornya serta ditelantarkan,Karena merasa takut akhirnya korban menyerahkan motornya tersebut dan menangis menunggu orang tuanya minta dijemput ungkap Agus dengan nada geram pada wartapos.

Dalam isi surat laporan di Satreskrim polresta Surabaya, Nomor :STP/87/IV/2017/Satreskrim.IPTU Herry Syaiful.R.SH sebagai penyidik.
Dimana sebagai barang bukti yang di catat dalam surat laporan yaitu, 1.-Satu lembar STNK Honda Vario Nopol L.6700.QW dan ,2.- Satu lembar Berita acara penyerahan kendaraan dari RADANA Finance,3 – Satu lembar kwitansi pembayaran angsuran terakhir tanggal 23 februari 2017.

Dalam laporan tersebut, para debt collector di kenai pasal dugaan tindak pidana pencurian dengan kekerasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 365 KUHP. (Jhon Saragih)