Korban KDRT Traumatik, Kasusnya Belum Bisa Menyeret Pelaku Ke Meja Hijau

Pasuruan, Wartapos – Kekerasan dalam rumah tangga kerap mewarnai bahtera keluarga, hingga berakhir litigasi (jalur pengadilan) ataupun non litigasi. Hal ini terjadi pada Sri Rahayu (33) warga Desa Catak Gayam -Jombang, yang saat kejadian Senin (10/5/2021) sore berada di rumah suaminya, AGS (35) warga Desa Pungging, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Senin (5/7/2021)
Sri Rahayu mendapatkan kekerasan fisik dan sempat disekap oleh suaminya disaat ada selisih paham antar keduanya, yang mengakibatkan luka di beberapa bagian tubuh Sri Rahayu. Seperti Lebam dan sobek pada bibir atas sebelah kiri, luka sobek hampir seluruh bagian leher dan lebam di bagian belakang paha kanan dan kiri, serta luka sobek telinga kanan.
Akibat ulah suaminya yang pada saat itu dirasa bisa mengancam jiwanya dan rasa traumatik kepadanya dan kedua putrinya yang berusia 4 dan 7 tahun. Akhirnya Sri Rahayu memberanikan diri kabur lewat jendela rumah dan melaporkan peristiwa itu bersama saksi seorang tetangga korban ke rumah Kepala Desa Pungging sebelum akhirnya melaporkan kejadian itu ke Polsek setempat.
Dari Polsek, Sri Rahayu diarahkan melaporkan tindak KDRT ini ke Polres Pasuruan dengan surat pengaduan tertanggal 10 Mei 2021.
Tapi Sri Rahayu menyayangkan karena hampir dua bulan lamanya penanganan pihak Kepolisian yang dinilainya lamban dalam menangani kasusnya. Lantaran dengan peristiwa itu, kedua putrinya mengalami rasa traumatik dan AGS belum bisa ditetapkan sebagai tersangka.
“Pelaporan saya ke pihak Kepolisian sudah berjalan hampir 2 bulan lamanya, tetapi belum terlihat adanya upaya Kepolisian mengamankan AGS yang sudah menganiaya dan menyebabkan luka di beberapa bagian tubuh saya dan sudah ada hasil visum. Kedua putri saya sampai saat ini pun trauma apabila melihat tamu laki-laki, karena peristiwa itu terjadi didepan mereka,” ungkap Yayuk sapaan akrab Sri Rahayu kepada awak media
Saat awak media besama Zainul, S.H., Kuasa Hukum dari Sri Rahayu menanyakan perkembangan kasus tersebut. Pihak Kepolisian dari Satuan PPA yang diwakili Nur Ali  mengatakan bahwa pihaknya masih mendalami kasus tersebut.
“Kami masih mendalami peristiwa ini, karena saat kejadian itu tidak ada saksi yang melihat langsung kejadiannya. Mungkin pihak Kuasa Hukum bisa bersabar karena proses ini masih berjalan, ” ungkap Nur Ali kepada Zainul siang itu di Polres Pasuruan.
Saat ini Yayuk hanya bisa berharap agar kasus yang dialaminya bisa segera diselesaikan. Dan bisa mengadili pelaku sesuai dengan notindakannya berdasarkan undang-undang yang berlaku di negara ini. (Rochman)