“Cerita Pilu Dibalik Kasus Tambak Udang”, Berawal Sidak Komisi C Soal CSR Hingga Oknum DPRD Jadi Kuasa Perusahaan

Amari waker tambak udang meleman (kiri), gerbang tambak udang Meleman Wotgalih

Lumajang Wartapos.id – Bermula dari kerugian PT Bumi Subur, perusahaan tambak udang di Desa Meleman Kecamatan Yosowilangun – Lumajang, yang diklaim mencapai hingga Milyaran rupiah, nampaknya semakin rumit saja, pasalnya bukan hanya seluruh karyawan atau pekerja ditambak saja yang harus menanggung kerugian terhadap perusahaan tempatnya bekerja, namun dalam beberapa hari terakhir, Amari mencatut nama oknum Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Lumajang.

Amari yang merupakan waker dilokasi tambak udang tersebut atau yang bertanggung jawab atas keamanan lokasi tambak, menceritakan situasi rumit itu bermula dari sidak yang dilakukan oleh rombongan Komisi C DPRD Lumajang beberapa bulan lalu, sidak yang dipimpin oleh Tr selaku ketua Komisi C tersebut menekan pihak perusahaan untuk membayar CSR sebesar Rp 5 Milyar.

“Dari dulu ditambak udang Meleman ini aman-aman saja, sempat dulu Tr dan rombongan Komisi C datang ketambak dan menekan perusahaan untuk membayar CSR sebesar Rp 5 Milyar, namun tidak dipenuhi oleh bos (Owner PT Bumi Subur)”,Ujar Amari.

Setelah permintaan Komisi C tidak dipenuhi, selang beberapa bulan kemudian, lanjut Amari, pihak management dikantor pusat mengeklaim ada kerugian tambak hingga Milyaran rupiah, yang selanjutnya melakukan pelaporan kepada Polres Lumajang, untuk melakukan penyelidikan terhadap kerugian yang dimaksud.

“Tertuduh ya jelas semua karyawan yang bekerja di lokasi tambak, dan mau tidak mau kami harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut”,Tambahnya.

Merasa semua harus bertanggung jawab, akhirnya Amari dan pihak management dilokasi tambak dan seluruh pekerja menyepakati untuk menutup kerugian dari perusahaan, namun Amari merasa terdzolimi setelah hasil kesepakatan tersebut dirasa memberatkan pihaknya, dan Amari memgeluh kenapa hanya dirinya yang ditekan paling banyak untuk bertanggung jawab dari total kerugian yang ada.

“Dari kerugian yang katanya mencapai Rp 15 Milyar, setelah berunding sepakat 7 milyar dan saya harus mengembalikan sebesar Rp 4 Milyar dan pihak management beserta seluruh karyawan dilokasi tambak dibebani sisanya yaitu Rp 3 Milyar,” Keluhnya.

Selain itu Amari yang merasa terdzolimi menceritakan, bahwa perlakuan Tr yang katanya mendapat kuasa dari Owner PT Bumi Subur melakukan penekanan secara sepihak, yaitu hanya dirinya, lalu kenapa pihak management yang meliputi Manager dan karyawan tidak dilakukan penekanan seperti yang dilakukan kepadanya.

“Saya merasa cuma saya yang ditekan sama Tr, sedangkan pihak management tidak dilakukan penekanan seperti yang dilakukan kepada saya, kalau memang kasus ini harus masuk dalam proses hukum, ya penadahnya juga harus ditekan juga”,Paparnya.

Diakui Amari sudah beretikat baik dalam menghormati kesepakatan tersebut, dirinya sudah mengembalikan uang tunai sebesar Rp 425 juta, ditambah satu unit mobil Toyota Yaris, dan sebidang tanah.

“Saya sudah menyerahkan uang tunai dan aset keluarga saya, yang total dihargai mencapai 1,5 Milyar, sedang pihak lain tidak ada yang menyelesaikan sebanyak itu, sebab tidak dilakukan penekanan seperti yang ditekankan kepada saya”,Kata Amari.

Dari permasalahan yang ada, Amari yang merasa ada konspirasi jahat seakan hanya dirinya yang memang mau di manfaatkan, dirinya bertekad menguasakan kasus yang sedang menimpa dirinya kepada Kuasa Hukum Mahmud. SH., bahkan Amari juga mengatakan mempunyai bukti kuat atas dugaan pemerasan yang dilakukan Tr kepada beberapa pekerja tambak, dengan modus menakut – nakuti pekerja jika ingin tidak diperiksa Polisi harus membayar sejumlah uang, yang totalnya mencapai Rp 65 jutaan.

“Rf pekerja tambak dimintai uang sebesar Rp 30 juta, Am juga dimintai uang dengan total Rp 20 juta yang dibayarkan bertahap, dan Rd supir tambak juga sudah membayar kepada Tr dengan cara ditransfer sebesar Rp 15 juta, ya modusnya ditakut – takuti kalau mau aman, kalau mau tidak diperiksa Polisi, harus bayar dan total yang sudah terbayarkan sebanyak Rp 65 juta”,Tegasnya.

Hingga berita ini dimuat belum ada penjelasan dari Tr , saat dihubungi via telepon genggamnya hanya terdengar nada sambung dan tidak terangkat.

Akankah bermunculan cerita – cerita baru dibalik dugaan kasus pencurian udang di tambak Meleman Desa Wotgalih ?… (bersambung)

Reporter ; Nizar / Anwar