Semangat, Meski Hujan Puluhan Grup Tongklek Tetap Berlomba
Wartapos, Tuban
Kehadiran bulan ramadhan selalu menciptakan hal-hal unik dan seru di berbagai belahan nusantara. Semua daerah punya tradisi unik untuk menyambut kedatangannya. Salah satunya adalah festival tongklek di kota Tuban. Tongklek, menurut asal-usulnya, adalah musik sederhana yang digunakan membangunkan orang sahur dengan menggunakan kentongan dan bambu. Jika dipukul menimbulkan suara “tong” dan “klek”. Tongklek adalah sebuah kesenian tradisional bangsa Indonesia. Bagi masyarakat Tuban ternyata menjadi ‘magnet’ tersendiri. Setiap bulan Ramadhan tiba, kehadirannya selalu dinanti. Bagi kamu yang belum pernah mengunjungi festival tongklek, hal-hal berikut harus kamu tahu nih!

Tradisi turun-temurun dari bumi para Wali
Konon, tradisi tongklek merupakan salah satu tradisi peninggalan Wali Songo. Dalam konteks ini, sebagian ahli sejarah mencatat bahwa persebaran musik tongklek di Tuban sudah ada sejak sekitar tahun 1972. Mengenai sejarah asal-usul kehadirannya, hingga saat ini masih menjadi kontroversi. Sebab, pada zaman dahulu, belum ada pihak yang peduli menuliskan sejarah lahirnya tongklek. Hal itu sungguh disayangkan, sehingga belum diketahui secara pasti dari mana asal tradisi ini.
Gemerlap, bagai karnaval di malam hari
Festival tongklek dilaksanakan pada malam hari setelah salat tarawih. Festival tongklek tak ubahnya karnaval di malam hari. Semua peserta tampil semenarik mungkin berbalut kostum dan atribut yang warna-warni. Jika jumlah pesertanya tidak dibatasi, festival tongklek bahkan baru selesai menjelang subuh hari.
“Haram” menggunakan musik modern
Festival tongklek wajib menggunakan bambu sebagai alat utama. Seiring berjalannya waktu, peserta diberikan kebebasan untuk mengembangkan alat musiknya, misal gamelan, kendang, atau alat musik tradisional lainnya. Peralatan musik modern diharamkan di sini, pelanggaran akan mengakibatkan peserta diskualifikasi.
Hujan gerimis tidak mengurangi kemeriahan festival ‘Tongklek’ yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Tuban, Rabu (14/6/2017) malam. Puluhan peserta dari berbagi daerah di Bumi Wali itu, akan merebutkan piala dan uang pembinaan.
Acara yang sudah berjalan selama 11 tahun tersebut, semakin tahun semakin diminati. Hal itu terbukti dengan penuhnya jalan-jalan yang akan dilalui 50 kelompok atau regu tongklek yang berlangsung usai shalat Tarawih itu.
Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, para pemain musik yang identik digunakan bangunkan orang sahur itu, akan melewati beberapa jalur protokol kota Tuban. Oleh penyelenggara, rute yang diambil panitia tahun ini, pemberangkatan mulai dari alun-alun Tuban.
Kemudian, peserta berjalan menyusuri Jalan (Jl) RM Suryo menuju Jl. Veteran. Setelah itu, peserta belok ke arah barat atau ke Jl. Basuki Rahmad selanjutnya belok ke utara menuju Jalan Pemuda. Peserta akan mengambil finish di kantor PC NU Tuban di Jalan Diponegoro.
“Untuk menjamin keamanan, kita sudah meminta bantuan pengamanan dari jajaran Polsek Tuban Kota dan Polres Tuban,” ungkap ketua PC IPNU Kabupaten Tuban, Sitrisno ketika dikonfirmasi Rabu (14/6/2017) malam di alun-alun Tuban.
Selain meminta bantuan Polri, alumni STITMA Tuban itu mengaku juga meminta bantuan pasukan elit Gerakan Pemuda Ansor yang akrab disebut Banser. Ketua PC IPNU Tuban periode 2016-2018 itu, berharap kondisi di lapangan landai-landai saja, tanpa ada halang rintang.
“Selain Polri dan Banser, kita juga dibantu pasukan keamanan Pagar Nusa dan CBP IPNU Tuban,” kata pelajar NU asal Widang Tuban itu.
Sementara, ketua DPRD Kabupaten Tuban, Miyadi dalam sambutannya menyatakan dukungan atas terselenggaranya festival yang merebutkan uang pembinaan, tropi, dan piala IPNU-IPPNU bergilir. Selain itu, politisi PKB berharap dapat melestrikan budaya tongklek.
“Mudah-mudahan acara berjalan lancar tanpa halangan sesuatu apapun,” harap wakil rakyat itu dalam sambutannya, sebelum pemberangkatan.
Berdasarkan info yang diterima, dari dewan penyelenggara, Juara I akan meraih Piala bergilir dan uang pembinaan Rp2 juta. Sementara juara II akan menapat tropi dan uang pembinaan Rp1,5 juta. Sedangkan untuk juara III akan mendapat uang pembinaan Rp1 juta dan tropi.(Dn)





