Konflik Lahan di PT Kalijeruk Baru, Ketua STL Diduga Tuai Intimidasi Hingga Ancaman Fisik

Lumajang Wartapos.id — Konflik lahan di Desa Kalipenggung, Kecamatan Randuagung, kini berubah menjadi ancaman kekerasan fisik. Sehari setelah warga memasang spanduk somasi, upaya damai berupa pemasangan patok batas justru dibalas intimidasi terang-terangan. Ketua Serikat Tani Lumajang, Jun, beserta Ketua Organisasi Tani Lokal, Hasan, dikepung, diancam ditahan, hingga diseret paksa oleh sekelompok orang yang diduga didampingi petugas keamanan PT Kalijeruk Baru, Jumat (18/9/2026) siang. Rekaman videonya diterima redaksi wartapos.id
Dalam rekaman yang terekam jelas, Jun dan Hasan dikepung sekelompok orang yang diduga membawa tali tampar, di mana di antaranya berdiri Imam Kholik, petugas keamanan PT Kalijeruk Baru. Seorang pria berperawakan gemuk tampil dominan, menuduh Jun sebagai otak pergerakan.
“Kan sampean pemandunya, Pak. Sampean jadi provokator di sini ya. Di sana terjadi pematokan — sampean tanggung jawab,” ucap pria itu lantang sambil menepuk pundak Jun berulang kali dengan nada menantang.
Saat Jun mencoba menjelaskan bahwa warga menginginkan diskusi damai, pria lain terlihat memegang tali tampar sambil melambaikannya sebagai ancaman nyata.
“Pokoknya patok itu harus dicabut. Kalau tidak dicabut, tetap diikat ini,” ancamnya.
Imam Kholik dari pihak perusahaan turut mematikan ruang negosiasi: “Tidak bisa, tetap harus dicabut semua.”
Jun dan Hasan sempat mencoba memperkuat argumen dengan memutar rekaman suara lewat ponsel, namun diabaikan. Pria berbadan gemuk itu kembali menekan dengan ancaman penahanan:
“Kalau nanti di sana masih ada patok, bapak ini kita tahan — ini provokator. Karena ini putra daerah ya, masih kami beri ruang,” ancamnya sambil kembali menekan pundak Jun.
Situasi memanas. Berdasarkan keterangan saksi di lokasi, intimidasi tidak berhenti pada kata-kata. Jun dan Hasan dipaksa secara kasar, diseret, dan dibawa paksa menuju balai perkebunan.
Aksi ini menandai eskalasi tajam konflik lahan yang sempat berjalan damai. Dari pemasangan spanduk somasi dan patok batas yang bersifat simbolis, kini berubah menjadi intimidasi, ancaman fisik, dan penahanan tidak wajar — di tengah sengketa yang hingga kini belum ada titik terang dari pihak berwenang.
Reporter : Nizar/Anwar





