Kisah Pilu Pengidap Hedonisme, Rela Korbankan Rumah Tangga Demi Hidup Glamor


Lumajang Wartapos.id – Siapa yang tak ingin memiliki hidup mewah dan glamor ? pasti semua orang menginginkannya, namun demikian kita harus bisa mengukur diri sesuai kemampuan agar tidak berakibat fatal, perilaku hidup glamor lazim di sebut hedonis, dimana menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBB), hedonisme adalah suatu pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama hidup di dunia.
Gaya hidup hedonis sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor mulai dari budaya, nilai, demografi, kelas sosial, kelompok rujukan, keluarga, kepribadian, motivasi hingga emosi. Gaya hidup hedonis juga membawa banyak dampak buruk, bukan hanya untuk diri sendiri, keluarga dan orang lain tidak luput dari dampaknya.
Akibat dari gaya hidup yang hedonis, kebahagian keluarga tidak lagi menjadi prioritas, bahkan anakpun ikut menjadi korban gaya hidup hedonis orang tuanya.
Kejadian tersebut dialami oleh seorang pria berinisial ZA, ketika masih menjadi suami dari seorang wanita sebut saja NU yang saat itu tinggal di Desa Sumbersuko Kecamatan Sumbersuko Kabupaten Lumajang Provinsi Jawa Timur.
Kehidupan rumah tangga yang telah dibina selama 9 tahun kandas begitu saja karena gaya hidup glamour sang istri yang tidak sesuai dengan kondisi ekonomi keluarganya. ZA merupakan sosok suami yang bertanggung jawab dan terkenal baik dilingkungan sekitarnya namun berbanding terbalik dengan istrinya.
NU sendiri terkenal akan gaya hidup hura – hura dan selalu tampak mewah. Dimana hal tersebut sudah melampaui batas kewajaran pasalnya agar bisa memenuhi gaya hidup hedonis, NU diduga dengan sadar telah tega menipu suami dan mertuanya sendiri.
Menurut pengakuan ZA, istrinya ini sudah tidak bisa diatur, selalu membantah apabila diingatkan, dan sudah berkali – kali melakukan tindakan di luar batas seperti berangkat pagi pulang hingga larut malam tanpa sedikitpun mempedulikan anaknya. ZA sendiri selama ini selalu mempercayai apapun yang dikatakan sang istri meskipun itu salah.
ZA juga bercerita bahwa Orang Tuanya pernah menjadi korban penipuan oleh sang istri sebesar Rp150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).
“NU saat itu bicara kepada bapak, sesaat setelah menerima uang hasil penjualan tanah, bahwa dirinya ingin meminjam sebagian uang hasil penjualan tanah itu untuk membeli alat pencetak paving guna memenuhi permintaan batako pasca Erupsi Semeru. Karena kecerdikan dan kelihaian istri saya dalam bertutur kata, Bapak yang sebelumnya sudah sepakat dengan keluarga tidak akan meminjamkan uang hasil penjualan tanah tiba – tiba berubah seperti orang kena magic dan tanpa pikir panjang langsung menyerahkan uang tersebut kepada NU,” terangnya.
“Setelah bercerai saya menanyakan status alat pencetak batako tersebut, betapa kagetnya ternyata alat tersebut milik orang lain, NU disana hanya menjualkan batakonya saja. Tega sekali si NU menipu Bapak saya, padahal uang tersebut sudah dipersiapkan oleh Bapak untuk menunaikan ibadah Haji,” tambahnya.
“Dia bilang anak kita di NU, itu bohong, lah semua anak ikut saya dan sejak usia 3 bulan, saya semua yang mengasuh anak sendiri, NU sibuk hidup glamor dan bergaya kesana kemari, sekarang malah saya difitnah tidak menafkahi dia, kan Gila itu namanya,” jelas ZA
“Saya terlalu percaya dengan istri saya memang karena ucapannya itu manis dan pintar sekali untuk mengatur kata-kata dan sampai saya bercerai di tahun 2022 bulan Oktober itu karena sudah tidak tahan mas dengan gaya glamornya, selalu melawan kalau pas dinasehati, sebenernya sudah banyak korbannya mas termasuk saya disaat cerai pernah diperas uang 75 Juta lewat pengacaranya, yang katanya saya tidak menafkahi itu dan yang sangat mengherankan saya baru menyadari semua perlakuan istri saya kepada saya dan keluarga disaat semua sudah habis mas,” ungkap ZA dengan nada kesal.
“Kemarin ini saya juga kaget karena mau menebus gadai sawah yang awalnya 30jt pas mau saya tebus ternyata sudah ditambah hutangnya senilai 10jt jadi total 40jt, akhirnya saya nomboki lagi mas kurang 10jt, saat saya tanyakan ke NU, dia hanya menjawab, mau balik gak duitnya,” tutupnya.
ZA berharap ini bisa menjadi pembelajaran baginya agar kedepannya bisa lebih hati – hati lagi dalam membina rumah tangga agar lebih baik lagi. Menikmati kehidupan dengan kesenangan dan kebahagiaan itu baik, selama apa yang kita lakukan berbanding lurus dengan kemampuan. Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua agar kita senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Demi kebenaran tentang uang yang dibawa NU, sampai berita ini diturunkan NU belum bisa dikonfirmasi tentang uang 150 juta itu dikemanakan ?
Senada dengan Pengakuan tetangga dekatnya menceritakan bagaimana kehidupan sehari – hari NU yang seakan tidak memiliki sopan santun dan tidak peduli terhadap tetangganya. Pernah juga disaat minyak goreng mengalami kelangkaan waktu itu sempat-sempatnya NU menimbun minyak goreng tersebut demi meraup keuntungan untuk dirinya sendiri, padahal banyak sekali masyarakat kurang mampu dilingkungannya yang sangat membutuhkan.
“Sama tetangga tidak bagus mas mungkin dia banyak relasi dan hidupnya selalu model mewah itu, kalau disini kan Desa iya tidak cocok mungkin menurut NU,” ujarnya sembari meminta namanya tidak di mediakan
“Dulu juga pernah mau saya ramaikan masalah nimbun minyak goreng pas langka itu, tapi tidak jadi karena kasihan melihat suami dan anaknya saat itu, jadi dibiarkan saja meskipun banyak masyarkat kurang mampu yang butuh,” imbuhnya.
Reporter ; Nizar/Anwar





