DPRD Dan LSM Raja Giri Soroti Penebangan Hutan, Perhutani “Bungkam” Perihal Petak 14 H

Lumajang Wartapos.id – Aksi penebangan hutan yang terjadi selama tiga tahun terakhir disinyalir menjadi salah satu penyebab terjadinya bencana banjir dan tanah longsor, hal tersebut nampaknya menjadi perhatian yang serius dari kalangan DPRD Lumajang.
H. Akhmat ST. Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lumajang, menyampaikan bahwa banjir dan tanah longsor yang sering terjadi akhir-akhir ini disinyalir salah satu penyebabnya karena banyaknya hutan yang sudah gundul.
“Banjir bandang di Ranu Pane dan tanah longsor di Argosari misalnya, adalah fakta nyata bahwa telah terjadi ketidakseimbangan fungsi ekologi di area tersebut,” tegas Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Minggu (09/10/2022).
Menurut H Akhmat, penebangan pohon yang dilakukan berskala besar seolah tidak memperhatikan lingkungan, itu menjadi salah satu faktor pemicu bencana.
“Kita tidak pungkiri, penanaman produk pertanian oleh masyarakat misalnya, berdampak positif kepada perekonomian warga. Tetapi juga, jauh daripada itu dampak negatifnya adalah kerusakan lingkungan, yang membahayakan keselamatan masyarakat itu sendiri,” ujarnya.
H Akhmat menyatakan, harus ada langkah nyata dari pemerintah agar bencana tanah longsor dan banjir bisa diminimalisir. Setidaknya, tidak melakukan penebangan skala besar. Apalagi, masyarakat juga memberikan masukan, seperti yang terjadi di Desa Burno.
“Disisi lain, masyarakat utamanya yang berada di sekitar hutan, juga turut aktif dalam menjaga kelestarian hutan,” tambahnya.
Di lain pihak, Deddy Hermansjah, Ketua LSM Raja Giri Lumajang menilai bahwa penebangan yang dilakukan oleh Perhutani di kawasan hutan negara yang masuk di dalam wilayah desa Burno tersebut tidak memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan.
Menurutnya, Pengelolaan hutan haruslah berdasarkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan. Pengelolaan hutan lestari harus menjaga keseimbangan antara tiga pilar utama, yakni: ekologi, ekonomi dan sosial budaya.
Penebangan hutan yang dilakukan secara bertubi-tubi beberapa tahun terakhir itu membuat masyarakat yang bermukim di sekitar hutan menjadi khawatir. Dan jika melihat kondisi di lapangan, penebangan hutan di Desa Burno tepatnya tepi jalan menuju Ranu Pane tersebut dilakukan secara masif oleh Perhutani dengan mengabaikan fungsi ekologi, “Faktanya pasca kegiatan tebangan sebelumnya, Perhutani belum pernah berhasil melakukan reboisasi”, ungkapnya.
Walaupun Deddy juga mengetahui jika pohon-pohon yang ditebang itu merupakan pohon kayu keras di kawasan hutan negara dengan status kawasan hutan produksi yang dikelola oleh pihak Perhutani.
“Itu memang pohon kayu keras yang ditanam di kawasan hutan negara dengan status kawasan hutan produksi yang dikelola oleh pihak Perhutani, tapi harus tetap diperhatikan bahwa keberadaan pohon-pohon itu menjadi penyangga bagi kawasan di sekitarnya”, ucap Deddy saat ditemui wartapos.id di sekretariat LSM Raja Giri di sela-sela kesibukannya mempersiapkan kegaitan penghijauan, Minggu (09-10-2022) .
Ia juga menambahkan, “Apakah fakta nyata terjadinya bencana banjir bandang di Ranu Pane dan tanah longsor di Argosari yang terjadi kemarin itu, tidak cukup menjadi contoh bahwa telah terjadi ketidakseimbangan fungsi ekologi di area tersebut karena banyaknya lahan kawasan hutan negara yang telah berubah fungsi?”
Ditegaskannya pula, “Jika Perhutani KPH Probolinggo meneruskan tebangan, sama halnya dengan menjemput bencana”, tandasnya.
Terpisah, Administrasi Perhutani KPH Probolinggo, Ida Jatiana, ketika dikonfirmasi via WhatsApp terkait penebangan pohon Damar di Desa Burno petak 14 H sebanyak 1427 pohon yang luasannya tertulis dipapan nama 12,50 hektar, apakah itu akan terus dilakukan, sementara saat ini musim penghujan, namun pihak Perhutani enggan untuk memberikan jawaban dan tidak membalas WA dari biro media Wartapos.id. (minggu, 09/10/22)
Untuk diketahui, saat ini Perum Perhutani Bagian Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Senduro Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Probolinggo Jawa Timur, melakukan penebangan hutan di petak 14 H yang masuk di wilayah Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
Reporter : Nizar/Anwar





