Tellasen “Topak”, Tradisi lebaran 7 hari usai idul Fitri yang mulai langka

Bangkalan, Wartapos.id – Dalam tradisi warga Madura, momen telasan topak dipercaya sebagai perayaan hari kemenangan sesungguhnya. Tak mengherankan, tradisi yang juga di kenal sebagai tellasan tongareh (lebaran 7 hari) ini diselenggarakan secara lebih ramai dan meriah.

Sesuai namanya, tradisi tellasan topak yang artinya adalah lebaran kupat atau ketupat, warga akan membuat ketupat dalam jumlah besar, ketupat ini nantinya akan di gunakan dalam acara syukuran serta di bagikan kepada tetangga terdekat, hal ini sebagai wujud rasa syukur dan saling berbagi rezeki antar sesama manusia.
Namun, pada perayaan kali ini, Rabu (12/06/2019) dari pantauan wartawan wartapos, mulai berkurang baik dari sisi semangat maupun anter – anter ke tetangga. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penduduk asli yang mengakui jika tradisi tellasen topak tahun ini mulai langka. Seperti yang disampaikan oleh beberapa warga di Kelurahan Kraton dan Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Kota Bangkalan.

“Sepi mas, yang anter – anter sekarang tinggal beberapa tetangga saja,” tutur Ibu Lilin warga Senenan, Kelurahan Kemayoran, Bangkalan saat bertemu wartawan wartapos.

Lain lagi dengan Ibu Subaidah yang bertemu saat membeli Lepet di depan gedung pertemuan Rato ebuh menyampaikan,”Saya dari pagi keliling mulai dari Pasar Bancaran, terus ke pasar KLD (Pasar induk Kyai Lemah Duwur, red) nyari topak dan Lepet ini gak dapat, biasanya banyak yang jual. Ini baru dapet depan Rato ebuh,” ujarnya.

“Biasanya lepet satu biji harganya Rp 2.000, sekarang jadi Rp 4.000, itupun leppetnya kecil – kecil, terpaksa beli, namanya tradisi, anak – anak pada nanyain di rumah,” imbuh Subaidah sambil menggerutu.

Mbok Mar, penjual Topak dan Leppet menyampaikan alasan terkait mahalnya harga topak dan Leppet tersebut dikarenakan sedang lebaran ketupat dan gak ada penjual yang lain,”Harga Otong (bahan wadah dari janur kelapa) mahal mas, jadi terpaksa menaikkan harga jualnya,” ujarnya. (San)