BudayaJatimSurabaya

DEKLARASI ASOSIASI FILM SURABAYA (SURABAYA FILM ASSOCIATE) “SURFACE”

Para filmmakers sedang berfoto bersama setelah Deklarasi SURFACE

Surabaya, Wartapos.id – Perfilman Surabaya kian menggeliat. Perkembangan terakhir memperlihatkan bahwa semakin banyaknya aktivitas perfilman yang tengah, dan akan berlangsung. Para filmmaker bermunculan dengan karya yang mengiringinya. Beberapa event, diskusi, juga kegiatan komunitas semakin sering digalakkan.

Menggeliatnya aktivitas tersebut menandai bahwa, secara kuantitatif, kondisi perfilman di Surabaya semakin hari semakin menggembirakan. Namun, secara kualitatif, aktivitas perfilman tersebut memunculkan hal yang perlu kita perbaiki lagi.

Kurangnya Pengenalan Film Lokal dengan Warga Surabaya

Pertama, beberapa karya produksi film yang pernah tercatat sebagai film Surabaya, baik cerita tentang Surabaya, para kru dari Surabaya, maupun produksi dengan lokasi di Surabaya, selalu mengalami kegagalan di pasar. Kurangnya antusiasme warga Surabaya untuk menikmati film lokal buatan arek arek Suroboyo, jadi salah satu faktornya.

Adapun faktor besar yang mempengaruhi antusiasme warga adalah proses ‘pengenalan’ film tersebut kepada warga lokal. Hal ini merujuk pada proses publikasi, promosi, distribusi dan marketing dengan dana dan alur yang tidak memadai sehingga film lokal tersebut gagal berkenalan dengan warga Surabaya secara umum.

Akibatnya, film lokal sering berakhir hanya di cekungan masyarakat penghobi film yang tergabung dalam komunitas komunitas film tertentu. Padahal, bila dikupas secara potensi, film lokal yang memiliki isu khas lokal, dengan crew dan lokasi lokal pastinya memiliki ‘kedekatan alami’ dengan warga yang turut berbagi value berupa isu hingga kota tempat tinggal.

Permasalahan kurangnya keakraban ataupun promosi kepada warga lokal juga merambah event film, festival, lomba, diskusi, dan workshop seputar film, sehingga walaupun acara acara tersebut dilakukan dengan penggunaan kata ”Surabaya”, namun ia belum mencapai audiens secara umum.

Kurangnya Kesadaran Kolektif Filmmaker

Permasalahan lain adalah Filmmaker yang juga bertindak sebagai agen untuk mengenalkan baik karya ataupun proses perfilman pun acap kali tak hadir ke event film dengan tajuk ‘Surabaya’, atau lebih memilih event yang memiliki kedekatan hubungan secara komunitas. Terpecahnya Surabaya menjadi kubu kubu sineas per komunitas juga merupakan permasalahan serius, yang harus diselesaikan dengan pendekatan organisasi untuk merangkul semua komunitas dalam kesadaran kolektif selaku insan perfilman Surabaya.

Permasalahan komunitas antar Sineas Surabaya juga menimbulkan lingkaran produksi yang kurang berkembang. Semangat kolaborasi sering dikalahkan dengan keterbatasan pergaulan sehingga pembuatan organisasi yang menjembatani perkenalan sineas antar komunitas menjadi penting. Dikedepannya, diharapkan dengan perkenalan dan persatuan melalui organisasi, karya sineas Surabaya bisa lebih berwarna dengan semangat kolaborasi seluas luasnya untuk meningkat kualitas sebaik mungkin.

Absennya Pemerintah untuk Membina Aktivitas Perfilman Surabaya

Tanpa stimulus dari pemerintah untuk mensupport aktivitas perfilman Surabaya, Shooting seringkali terkendala regulasi pemakaian lokasi, utamanya di Landmark khas Surabaya. Hal ini menjadi nilai besar yang harus dibayar film lokal, baik secara budget ataupun secara drafting film. Tentunya dengan tajuk film lokal, secara visual film lebih mutlak menggunakan salah satu landmark atau lokasi khas Surabaya. Namun, hal ini sering kali hanya menjadi mimpi bagi produksi kelas kecil.

Selain itu, kerjasama pemerintah juga diperlukan untuk mendata seniman film, memberikan pelatihan kreatif lebih, agar film lokal Surabaya bisa lebih berkembang secara kualitas, artistik, dan memiliki value yang lebih kompetitif dan bisa diperkenalkan sebagai karya yang membanggakan di kelas nasional.

Beriringan dengan kondisi di atas, beberapa aktivis filmmaker membuat sebuah inisiatif Gerakan untuk mencoba mendalami kendala dan masalah yang mengemuka di tengah aktivitas perfilman Surabaya. Para inisiator tersebut, berasal dari banyak profesi di bidang perfilman dan masih aktif dalam aktivitas baik produksi, dan eksibisi film di Surabaya. Mereka berkumpul pada bulan Januari 2020. Dan menghasilkan beberapa catatan yang kemudian di follow up dengan beberapa kegiatan selama pandemi, yaitu “Cangkruk Online” bareng para film expert Surabaya. Mulai dari sutradara, penata artistic, music composer, produser, dan lain sebagainya. Hingga terlaksana hampir 35 episode cangkruk online di Instagram.

Setelah dianggap mewakili banyak bidang expert-nya, para narasumber di cangkruk online tersebut kemudian berkumpul dan bersilaturahmi secara offline. Pada acara “Silaturahmi Sineas Surabaya” yang berlangsung di Kafe Republika pada tanggal 22 Agustus 2020, menghasilkan beberapa rumusan dan akhirnya terbentuklah sebuah organisasi yang bernama “Asosiasi Film Surabaya” atau “Surabaya Film Associate” atau SURFace.

SURFace lahir dari gagasan bahwa ekosistem perfilman yang tengah berlangsung harus mampu memberikan nilai lebih bagi bidang-bidang perfilman lainnya. Bukan saja secara kuantitas, tetapi kualitas juga menjadi hal yang sangat penting. Asosisasi akan menjadi wadah di mana para filmmakers bisa Bersama-sama membangun jaringan dan informasi dalam tiap produksi, event, dan komunitas film Surabaya. SURFAce juga diharapkan menjadi motor penggerak untuk segala macam kegiatan perfilman di Surabaya. Baik secara kolaborasi maupun kompetisi yang sehat dan terbuka. (Jul/War)

Para filmmakers yang hadir akhirnya sepakat untuk mendeklarasikan SURFAce.

Daftar deklarator SURFAce:
1. M. Ainun Ridho
2. Wulansary
3. Sol Amrida
4. Hasmyral Ichsan
5. Agung Sulistyanto
6. Azhari
7. Jessica Erviani
8. Sito Fossy Biosa
9. Rama Indera
10. Fredrik Denli Petrusz
11. Efatha Lumadyo
12. Syska La Veggie
13. Rhere Aslaka
14. Syarif WB
15. Sito Fossy Biossa
16. Arik Rahman
17. Hendry Wahana
18. Ryo Maestro
19. As’ad Aswin
20. Agil M
21. M. Rizal Hanun
22. Farah Fauziah
23. Haikal Damara
24. Hamidan
25. Fahrizal

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button