JatimReligiSidoarjo

Ziarah Wali 5 Warga Sidokerto Kirim Doa, Dan Belajar Sesungguhnya Kita Semua Juga akan Mati

 

Sidoarjo, Wartapos.id – Hakeketnya hidup dalam kehidupan, menelaah bahwa yang bernyawa akan binasa, oleh karena itu mengirim doa kepada Ulama, para Wali, kepada orang tua adalah bagian dari iktiar kita semasa hidup bahwa sesungguhnya dengan doa semua bisa berubah, yang buruk menjadi baik, dan yang baik, bisa menjadi lebih baik Minggu ( 13/11/2022 ).

Dalam ziarah Wali yang di adakan oleh jamaah Istiqosah Rt.02 Rw.03 Desa Sidokerto kecamatan Buduran kabupaten Sidoarjo, ini senantiasa agenda warga karena dengan seringnya ziarah Wali setidaknya kita sudah belajar untuk mati, mempersiapkan diri untuk bekal perjalanan ke akherat, dengan melakukan perbuatan yang baik, karena ajaran Islam khususnya mengajarkan hari ini harus lebih baik dari kemarin. Berziarah bagi warga Nahdiyin di anjurkan mengirim doa, karena ada tiga hal yang bisa mengangkat, dan sampai ke pada orang yang di doakan khususnya orang tua kita di kala sudah neninggal. Yang bisa di ijabahi oleh Allah SWT, 1. Doa anak yang soleh, Amal kebaikan, dan shodagoh ( membelanjakan harta bendanya untuk perjuangan di jalan Islam ).

Salah satu warga Sidokerto Rt.02 Rw.03 Udin , hari ini mas !, warga sekitar ada 40 orang melakukan ziarah Wali Lima, kirim doa juga mengenang perjuangan ziar agama Islam terutama di tanah jawa, rintangan dan halangan tidak menyurutkan dan menghentikan dakwah dan ziar para Wali Allah , perlu di ketahui tanah Jawa dulu di kenal sebagai gong liwang liwong, jalmo moro, jalmo mati, Angker dan benar benar niat yang luar biasa , sehingga sampai bisa diterima oleh masyarakat waktu itu. Karena di waktu itu masih berupa kerajaan agama yang di anut adalah Hindu, dalam rute ziarah yang pertama singgah di makam Sunan Bungkul, kemudian ke Sunan Ampel Surabaya, di lanjutkan ke Gresik sunan Giri/ Maulana Malik Ibrahim, Sunan Drajat, atau juga ke Syekh Asmoroqondi, dan terakhir ke Sunan Bonang Tuban Jawa Timur ujarnya.

Apa yang di tangkap dari hakekatnya ziarah Wali Lima, bahwa kalau kita menanam kebaikan tak akan rugi sama sekali, kalau bisa menjadi manusia dan belajar harus benar benar kaffa dari hati, ikhlas, jujur, menghilangkan drengki dan iri, dan tidak rakus, semua adalah titipan. Ada kata pribahasan yang bagus untuk musahabah diri. Seperti Harimau mati meninggalkan Belang, dan Gajah mati meninggalkan Gading. Semua orang berebut memilikinya karena harganya mahal, begitu juga manusia di kala hidup harus menjadi teladan dan bermanfaat bagi orang lain, berkah ilmunya, di kala meninggal akan menjadi refrensi, karena ilmunya bermanfaat untuk orang banyak. ( rif/ din )

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button