Anak-anak Bermain Riang Di Wisata Pantai Tlangoh, Bangkalan.

Gapura pintu masuk menuju wisata Pantai Tlangoh, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan

BANGKALAN, Wartapos.id – Deru ombak dari laut lepas yang membentang sepanjang Pantai Utara Bangkalan kini tak lagi menjadi suara tunggal di Pantai Tlangoh, Desa Tlangoh, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Deru ombak itu kini menjadi simphoni indah dan merdu karena dibalut suara dan teriakan gembira dari ratusan anak-anak yang sedang bermain di bibir pantai. Ada yang berlari, ada yang berenang, ada juga yang mengendarai motor pantai. Deru ombak juga berbalut tawa bahagia dan senda gurau keluarga-keluarga yang sedang menikmati keindahan alam. Di pantai berpasir putih yang membentang sepanjang sekitar 2 KM bukan hanya terlihat bersih, tetapi juga dihiasi beraneka sport foto menarik. Yang Nampak bukan hanya denyut ekonomi tetapi juga denyut kreatifitas, kolaborasi dan optimisme warga.

Selain dilengkapi fasilitas untuk mandi bagi mereka yang berendam atau berenang serta toilet yang bersih, pantai ini juga punya puluhan payung peneduh. Tak hanya itu ada sekitar 30 warung makan dan minum yang siap melayani pengunjung.

Keberadaan 30 warung ini sebenarnya refleksi dari banyaknya wisatawan yang berkunjung. Khususnya di hari libur, wisatawan bergelombang datang dari pagi sekitar pukul 06.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Selain memiliki wahana untuk foto selfie, di pantai ini anak-anak dimanjakan permainan air hingga sepeda motor pantai.

“Konsepnya memang wisata keluarga. Jadi ibu dan bapak datang bersama anak-anak atau bahkan keluarga besar. Anak-anak bebas bermain, orang tua mengawasi dan menikmati,” kata Kepala Desa Tlangoh, Kecamatan Tanjung Bumi, Kudrotul Hidayat.

Karena lebih menjadi lokasi wisata keluarga, Pantai Tlangoh tidak hanya memiliki petugas kebersihan, tetapi juga memiliki penjaga pantai. Penjaga pantai ini tugasnya bukan hanya mengawasi agar pengunjung menjaga keamanan dan kebersihan, menolong jika ada insiden, namun juga memastikan tidak ada yang berbuat tak senonoh di Pantai Tlangoh tersebut.

“Boleh saja datang bawa pacar. Tapi jangan macam-macam. Kami punya petugas penjaga pantai yang mengawasi perilaku pengunjung,” kata Kudrotul.

Menurutnya, Pantai Tlangoh sebenarnya sudah terkenal sejak lama karena diyakini warga Bangkalan dan sekitarnya punya khasiat bisa menyembuhkan segala penyakit. Mereka yang ingin sembuh dari sakit gatal-gatal hingga stroke biasanya berendam sejak pagi buta hingga matahari bersinar.

“Mereka baru boleh mandi air tawar setelah air hasil berendam menguap tuntas atau bersih,” kata Kundrotul.

Masalahnya, kepopuleran Pantai Tlangoh tidak bisa membangkitkan perekenomian warga. Lebih dari itu pantai ini dipenuhi sampah. Sangat kotor. Nasib Pantai Tlangoh yang merana itulah yang membuat Kades dan anak-anak muda Desa Tlangoh mulai berpikir untuk menjadikan , sebagai objek wisata.

“Karena itulah kami di awal tahun 2020 mendiskusikan dengan teman-teman PHE WMO. Ternyata mendapat sambutan, dan bahkan dukungan serta bimbingan,” kata Kudrotul.

Destinasi wisata baru ini dibuka sekitar 7 bulan lalu, atau tepatnya sekitar bulan Mei 2020. Dibuka justru saat pandemi Covid-19 terjadi. “Covid-19 tidak menghalangi semangat anak-anak muda di Desa Tlangoh untuk bangkit,’ ungkap Kudrotul Hidayat.

Berkat dukungan PHE WMO, perangkat desa yang dipimpin oleh Kades kini bahu-membahu dengan anak-anak muda yang tergabung dalam Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), dan pemangku kepentingan lainnya mengubah pantai yang kumuh menjadi destinasi wisata keluarga andalan.

Kini setidaknya ada 100 warga Desa Tlangoh yang hidup dari tempat wisata ini, mulai jadi penjaga pantai, petugas kebersihan, penjaga parkir, penjaga pintu masuk, penjual tiket, penjaga toiled, penjaga warung hingga pemilik warung.

“Kami masih menabung untuk menambah wahana foto selfie dan mengembangkan permainan laut seperti parasailing, banana boat dan sejenisnya,” kata Kudrotul.

Memunculkan kemandirian dan berkelanjutan serta dijalankan dalam sebuah mekanisme partisipatif yang melibatkan para pemangku kepentingan di Telangoh, melengkapi kebersilan PHE WMO saat mengembangkan Taman Pendidikan Mangrove (TPM) Labuhan, Program Wisata Laut Labuhan, Eco Edufarming Bandangdaja. 4 (empat) program unggulan itulah yang mengantarkan PHE WMO meraih Proper Emas di tahun 2020 lalu.

“Program ini menitikberatkan pada sektor wisata melalui pengembangan pariwisata di pesisir utara Bangkalan, Jawa Timur dengan target mewujudkan One Belt One Road (OBOR) pariwisata setempat,” kata General Manager PHE WMO, Dwi Mandhiri.

Proper Emas tahun ini diberikan pada PHE WMO karena dinilai berhasil mengimplementasikan dengan baik kinerja lingkungan di internal perusahaan melalui upaya dan inovasi-inovasi sektor sumber daya alam, serta kontribusi di eksternal perusahaan melalui payung program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pengelolaan lingkungan potensi alam di Bangkalan.

Menurut Dwi Mandhiri, selain fokus pada pengembangan pariwisata di Pantau Utara, PHE WMO selama 2020 juga menyalurkan bantuan pendidikan untuk 199 siswa di Kecamatan Tanjung Bumi, bantuan 3136 paket sembako untuk nelayan Desa Macajah, Tlangoh, Banyusangka dan Klampis Barat.

Selain itu juga membantu UMKM Desa Bandangdajah PIRT hasil bumi serta penyediaan usaha instalasi air isi ulang. Sementara bantuan pengembangan usaha nelayan di Desa Tlangoh dan Klampis Barat berupa alat tangkap rajungan.

Untuk bantuan fisik, antara lain, diwujudkan lewat renovasi jalan rusak di Desa Alas Kembang dan Banyusangka. Salah satu program lainnya adalah penyediaan tempat sampah segregasi untuk mendukung program sekolah lingkungan.

Dwi Mandhiri bersyukur dan bangga, karena pada tahun ini PHE WMO kembali meraih predikat Emas yang sebelumnya pernah dua kali diterima pada 2016 dan 2017. Penghargaan ini dapat diraih atas kerjasama yang baik, antara perusahaan dan masyarakat sekitar dalam implementasi program-program di bidang lingkungan dan pengembangan masyarakat.

“PHE WMO terus berupaya mengembangkan program yang memunculkan kemandirian dan berkelanjutan serta dijalankan dalam sebuah mekanisme partisipatif yang melibatkan para pemangku kepentingan,” kata Dwi Mandhiri.

Kini setelah keberhasilan itu, masih ada pantai lain yang menunggu sentuhan tangan dingin PHE WMO untuk didorong menjadi energi kebangkitan ekonomi dan kemandirian masyarakat pesisir Urara Madura. Diantaranya adalah Pantai Pandela Lajing, Pantai Tengket Sepulu, dan Pantai Biru Telagabiru.

Posisi pantai-pantai itu sesuai dengan semangat PHE WMO program OBOR (One Belt One Road) pariwisata Bangkalan. PHE WMO yang selama ini telah menghasilkan energi untuk negeri melalui produksi minyak dan gas, ingin menjadi energi pemberdayaan ekonomi masyarakat Bangkalan.

Pewarta : Ahsan