FokusJatimPolitikSurabaya

Gaya Kepemimpinan dan Proyek Risma ‘Disorot’

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

Surabaya,Wartapos.id – Pro dan kontrak tindakan Wali kota Surabaya Tri Rismaharini melaporkan seorang netizen bernama Zikria Dzatil. Seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak itu masih mengisahkan perhatian masyarakat.

Kini, menyita perhatian publik dengan gaya kepemimpinan Wali Kota yang kerap disapa Risma itu. Bahkan, kritikan keras pernah dilontarkan oleh Cak Anam ‘Choirul Anam’, Dewan Kurator Museum NU Surabaya. Menurut Cak Anam, Risma hanya mementingkan pencitraan, menata bunga, selebihnya diatur bawahan tersebut.

Tak hanya itu, tudingan pencitraan terhadap Risma pernah disoroti politikus NasDem yang juga sekretaris fraksi Demokrat-Nasdem DPRD Surabaya, Imam Syafi’i yang menuding pejabat Pemerintah Kota Surabaya melakukan pencitraan karena sering turun ke rakyat.

Salah satu proyek saluran Suditan di jalan Simpang Dukuh yang menjadi sorotan publik menyoal perencanaan awal pembangunan yang tidak di landasi teknis topografi. Sehingga, dilakukan pembongkaran aspal yang masih tertanam box culvert dengan kondisi bagus.

Hal itu disampaikan Imam Syafii pada saat menanggapi jawaban wali kota atas pandangan fraksi-fraksi terkait RAPBD Surabaya 2020.

Namun, pembelaan datang dari Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono menilai gaya Wali Kota Tri Rismaharini yang sering blusukan atau turun ke lapangan menginspirasi pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya, Jatim.

“Wali kota Risma siapa pun tahu, sangat dicintai rakyat Surabaya. Itu karena Bu Risma sering turun ke lapangan untuk bertemu rakyat. Ia tahu keadaan di masyarakat, dengan mata kepala sendiri. Dari sana, lahirlah kebijakan-kebijakan pro-rakyat,” ujar Adi Sutarwijono, Jumat (01/11) lalu.

Menurut Adi, gaya Risma itu menginspirasi pejabat-pejabat di Pemkot Surabaya untuk rajin turun ke lapangan. Bahkan, pejabat di level kelurahan dan kecamatan Pemkot Surabaya juga rajin turun ke warga.

Sementara, Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur, Muhammad Said Sutomo, menyorot soal perencanaan tata kota dan lingkungan di Kota Surabaya di era kepemimpinan Risma.  Terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan drainase atau box culvert. ”Ini seharusnya tidak sekedar berdasarkan estetika, kepentingan pencitraan belaka, apalagi hanya untuk bagi-bagi proyek,” tandas Said Sutomo, Jumat (7/2/2020).

Menurut Said, pekerjaan itu harus menggunakan landasan ilmu topografi, sehingga tidak lagi terjadi genangan air atau banjir ketika turun hujan seperti beberapa waktu lalu.

“Masak diguyur hujan kurang dari tiga jam saja, sudah klelep. Bayangkan kalau Surabaya hujan selama tiga hari tiga malam seperti Jakarta? Apakah Kota Surabaya tidak tenggelam? Itu yang jadi kecemasan kami sebagai warga Kota Surabaya,” imbuh Said ini.

Genangan air atau banjir di perkotaaan, lanjut Said, adalah potret perencanaan dan pelaksanaan pembangunan saluran irigasi pematusan dengan menggunakan box culvert tidak berlandasan ilmu topografi.

“Namun hanya mengandalkan estetika tanpa di dasari perencanaan awal yang matang. Kalau awal perencana salah artinya kan gagal? Sehingga keuangan negara yang dirugikan, itu bisa masuk rana pidkor,” pungkas Said ini.

Sayang, ketika wartawan ini melakukan konfirmasi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya, Erna Purnawati, untuk menanggapi sorotan YLPK terkait pembangunan gorong-gorong dengan box culvert tidak menggunakan teknis topografi dan awal perencanaan tidak matang. Enggan ditanggapi oleh Kadis DPUBMP tersebut.

Reporter : antonius zie

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button