BangkalanFokusJatim

DISPERTAPAHORBUN Bangkalan Menepis Saat Ditengarai bagikan bibit kedelai Kualitas Jelek

Bangkalan, Wartapos.id – Kelompok tani (Poktan) Se Kabupaten Bangkalan yang berada dalam binaan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Kabupaten Bangkalan setiap tahun selalu mendapatkan jatah tanam bibit kedelai dari Pertanian Pusat. Bibit kedelai yang rutin di bagikan tersebut selalu menuai keresahan – keresahan tersendiri bagi para ketua kelompok tani yang mendapatkan jatah bibit kedelai.

Contohnya beberapa Poktan yang ada di Kecamatan Tanah Merah, Kecamatan Blega, Kecamatan Modung, Kecamatan Kwanyar serta di Kecamatan Kamal. “Bibitnya gak bisa tumbuh mas, kalaupun tumbuh, sangat sedikit yang bisa tumbuh, kerdil lagi, jangan berharap hasilnya, kami tiap dapat bibit malah rugi biaya tanam,” tutur Maruki, salah seorang anggota Poktan di Kecamatan Tanah Merah kepada wartapos pada Sabtu (14/09/2019) di sawahnya.

Saat wartapos beranjak menemui beberapa kelompok tani lainnya, hal senada dengan Maruki di Kecamatan Tanah Merah terlontar sebagai keluhan para pengurus Poktan dan anggotanya,”Kami sempat dituduh menjual bibit kedelai bantuan ini mas, padahal bibit kedelai ini kurang tepat ditanam di wilayah kami. Mending memberikan bibit Kacang tanah atau bibit Jagung yang bagus agar lebih bermanfaat,” sambung anggota Poktan lainnya.

Penelusuran wartapos bermula saat adanya temuan bahwa bibit kedelai yang diterima oleh kelompok tani di 18 kecamatan Se Kabupaten Bangkalan terdapat puluhan Poktan yang menerima bibit dalam keadaan tidak layak ditanam dikarenakan kapangan dan banyak binatangnya.

Dari penemuan tersebut, wartawan wartapos mengkonfirmasi Plt Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (Dispertapahorbun) Kabupaten Bangkalan melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan, Geger Heri Susianto pada Jum’at (13/09/2019), Geger (sapaan akrab Kabid Tanaman Pangan) menyampaikan bahwa bibit yang disalurkan tersebut merupakan bantuan dari pusat.

“Sebenarnya kegiatan itu sudah berlangsung selama 3 (tiga) tahun bahwa bantuan itu langsung dari pusat. Kita tidak tahu bentuknya barang itu seperti apa, penunjukan juga dari pusat. Pada intinya, begitu benih itu sudah siap, langsung didelegasikan sampai ke titik bagi. Di titik bagi didampingi oleh mantri tani, penyuluh dan TNI,” papar Geger menjelaskan.

Kemudian Geger menjelaskan bahwa Dispertapahorbun hanya menerima dan mendistribusikan,”Tetapi, saya tidak mau kecolongan, yang pertama, Saya minta tolong satu truk mampir ke kantor dulu, alasan saya untuk ambil dokumen bahwa barang itu nyampek, yang kedua, saya mengambil sampel, saya tanam disini (kantor) pertumbuhannya bagus. Setelah itu, kalau sudah sampai dibawah, teman – teman setelah ada yang tidak tumbuh ditanya petugasnya menjawab kalau dari plastik langsung ditanam. Itu yang salah, salah perlakuan,”jelasnya.

Saat wartapos menanyakan kemungkinan bermainnya distributor, Geger menepis dengan menyampaikan bahwa untuk distributornya benar (tidak bermain) dikarenakan mulai dari pusat menggunakan BPSB (Badan Pengawasan Sertifikasi Benih).

Wartawan wartapos kemudian mengkonfirmasi CV. KJM yang mendistribusikan bibit kedelai tersebut melalui sambungan telepon yang dijawab langsung oleh pimpinan CV. KJM tersebut pada Sabtu (14/09/2019), Abdul Karim menyampaikan bahwa kedelai tersebut sudah dikawal dan diuji oleh kementerian, per saknya dilihat, ditimbang dan di cek langsung oleh petugas dari kementerian.

“Saya sebenarnya sudah malas, kenapa ? karena sistem sekarang ini sistem kontrak di pusat, trus tidak seperti bantuan benih yang biasa dilakukan langsung masuk ke kelompok tani. Sebab apa, ini pasti akan bermasalah dilokasi. Karena kedelai ini memang rawan, rawan segalanya. Berbeda dengan padi atau jagung. Tekanan lingkungan dan kelembaban udara sangat mempengaruhi sekali,” jelasnya.

Abdul Karim melanjutkan,”Saya tidak mengatakan benih saya jelek, kalau benih saya jelek pasti saya bunuh diri. Karena itu kontrak, kalau ada komplain, itu pembayarannya 3 sampai 4 bulan. Jadi kalau saya mengirim benih itu jelek, pasti tidak dibayar oleh Pemerintah.” Tutupnya. (San)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button