Prosesi Puncak Harjalu Ke 763 Penuh Makna Bersejarah

Pada puncak prosesi kali ini, Bupati Lumajang, Wakil Bupati Lumajang beserta jajaran Forkopimda berjalan dikawal oleh prajurit dan cucuk lampah dari Pendopo menuju Alun – Alun Lumajang. Disamping itu Bupati, Cak Thoriq menerima Tombak Pusaka oleh pemeran Narrarya Kirana Sminingrat (Wisnu Wardana) sebagai simbol estafet kepemimpinan dari pemimpin pertama Nagari Lamajang kepada Bupati Lumajang sekarang.

Mengawali acara prosesi Harjalu tersebut, Ketua DPRD Kab. lumajang, Agus Wicaksono, S. Sos., membacakan sejarah singkat Kab. Lumajang
Menyinggung tentang sejarah, Thoriq mengungkapkan, bahwa Lumajang didirikan oleh seorang pemimpin yang memiliki jati diri yang kuat, yaitu, Arya Wiraraja. Menurutnya, Arya Wiraraja, merupakan sosok yang mempunyai jiwa kstaria, jiwa administratur, jiwa kepemimpinan yang tangguh dan jati diri kuat yang bisa membuktikan bahwa Lamajang berdaya saing.
“Melalui Harjalu yang ke 763 saya berharap, kita semua mampu untuk mengintropeksi diri terhadap apa yang telah kita lakukan dalam membangun kota ini, dan selanjutnya bagaimana ke depan kita mampu berperan lebih di dalam pembangunan, guna menuju Lumajang hebat bermartabat,” imbuhnya.
Sementara itu, Wabup Lumajang, Indah mengungkapkan, bahwa sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, pihaknya akan memberinama Rumah Jabatan Dinas sesuai nama pendiri Lumajang, yaitu Rumah Jabatan Bupati akan menjadi Pendopo Arya Wiraraja. Sedangkan Rumah Jabatan Wakil Bupati akan menjadi Graha Narrarya Kirana.
“Demi memberikan penghormatan dan rasa terimakasih kepada pendiri Lumajang, maka hari ini kami mengumumkan bahwa kedua nama tersebut akan kami abadikan sebagai nama pendopo kab. Lumajang rumah jabatan Bupati serta Rumah jabatan wakil Bupati” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Bupati bersama Wakil Bupati menyerahkan tropi penghargaan dan uang pembinaan kepada atlet berprestai serta Pemuda pemudi berprestasi.
Dalam prosesi Harjalu ke 763 kali ini, ribuan undangan dihidangkan dengan tarian-tarian khas Lumajang, yaitu, Tari Bedoyo Lamajang dan Tari Godril Lumajangan. Tidak hanya itu, Gunungan hasil bumi Lumajang di akhir acara menjadi rebutan menyenangkan bagi warga masyarakat Lumajang yang hadir (nzr/war)





