
Nganjuk, Wartapos.id – Bersih desa merupakan tradisi turun temurun dalam kebudayaan masyarakat, ritual bersih desa telah dilakukan berabad-abad lamanya. Bersih desa merupakan wujud bersatunya manusia dengan alam. Bersih Desa dapat didefinisikan sebagai wujud rasa syukur warga sebuah desa atas yang diberikan tuhan yang maha kuasa kepada masyarakat desa, baik dari hasil panen, kesehatan, dan kesejahteraan yang telah diperoleh selama setahun dan juga sebagai permohonan akan keselamatan dan kesejahteraan warga desa untuk satu tahun mendatang.
Bersih Desa sendiri biasanya dilaksanakan satu kali dalam setahun setelah musim panen tiba dan tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dari zaman nenek moyang. Hari pelaksanaanya pun tidak sembarangan ditentukan, melainkan ada hari-hari tertentu di dalam kalender Jawa yang merupakan hari sakral untuk melaksanakan ritual bersih desa atau sedekah bumi.
Bersih desa / nyadran tidak selalu sama di setiap daerah atau desa karena memang leluhur yang membawa tradisi tersebut berbeda di setiap daerah. Oleh karena itu upacara adat yang dilaksanakan pun berbeda tergantung pada leluhur siapa yang disakralkan. Hari-hari pelaksanaannya pun berbeda.
Bertempat di petilasan ” Mbah Gede Sukonilo ” atau pemakaman umum desa gilig Badadan dan desa gilig Rowomarto, Kamis ( 9/6/22 ) masyarakat desa gilig Badadan dan masyarakat desa gilig Rowomarto mengadakan sedekah bumi / nyadran dengan melakukan tumpengan / kenduri bersama yang di pimpin oleh sesepuh desa mereka secara kyusuk atau kidmat melaksanakan tahlilan atau doa bersama, yang tujuannya untuk menghormati para pendahulu atau leluhurnya masing-masing.
Turut hadir dalam acara tersebut, kepala desa Babadan kecamatan Patianrowo kabupaten Nganjuk Imam Robani, anggota Polsek patianrowo, anggota danramil patianrowo , perangkat desa Babadan, sesepuh desa, tokoh masyarakat, dan masyarakat desa gilig Badadan dan masyarakat gilig Rowomarto. Dengan adanya bersih desa ini, kepala desa Babadan berharap kegiatan ini rutin di laksanakan setiap tahun, ini merupakan tradisi turun temurun yang di lakukan masyarakat kami, untuk menghormati para leluhur yang sudah mendahului kita semua. Kita memohon kepada Allah SWT agar masyarakat kami di berikan kesehatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan di beri hasil panen yang berlimpah, ” tuturnya ” .
Sebagian besar penduduk desa Babadan bekerja sebagai petani, namun juga ada yang bekerja sebagai guru, tukang, pedagang dan lain sebagainya. Bermacam macam profesi inipun membuat desa Babadan memiliki banyak perbedaan namun tetap saling menghargai, baik dari masyarakat yang kurang mampu tetap saling menghargai dan saling mengayomi sehingga membuat desa Babadan menjadi desa yang guyup dan rukun. ( Uzi )





