Berikut Penjelasan Ketua Tim Penanganan Corona RSUD Syamrabu Terkait Video Viral

Insert dr Catur

Bangkalan, Wartapos.id – Viralnya video yang beredar melalui media sosial, grup – grup WhatsApp membuat gaduh dan membuat resah warga masyarakat Kabupaten Bangkalan. Informasi yang simpang siur menjadi bahan pembicaraan dan perdebatan dikalangan masyarakat.

Sejak video pendek yang memperlihatkan sibuknya petugas RSUD dan sekilas tampak pasien diduga suspect Corona tersebut beredar sore hari pada Jum’at (13/3/2020) sekitar pukul 18.00 WIB, Wartawan wartapos mendatangi RSUD Syamrabu Bangkalan untuk mengklarifikasi hingga akhirnya pada pukul 22.14 WIB, Ketua Tim Penanganan Corona RSUD Syamrabu Bangkalan, dr. Catur menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya.

“Rumah sakit kita merupakan salah satu rumah sakit rujukan sesuai keputusan Gubernur. Sehingga semua pasien yang dianggap pulang dari luar negeri dan dicurigai, maka akan dikomunikasikan dengan kita. Jadi, tadi siang RSUD kita di telpon dari Puskesmas Kamal menceritakan satu pasien yang baru datang tadi malam dari umroh dengan gejala batuk dan sesak. Karena di RSUD sudah ada timnya, ketika ada kasus seperti itu, maka akan kami bicarakan. Hasil rapat tim memutuskan akan melihat dulu,” jelasnya.

Catur lantas merinci kriteria pasien yang terinfeksi atau tidak virus Corona. Kriteria tersebut antara lain, Orang Dalam Resiko (ODR), Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) disamping itu ada propable suatu suspect Corona, Covid -19 tersebut ada tahapannya.

“Pasien ini karena masih awal dari Kamal dan belum ada pemeriksaan yang lain makanya kami tadi memutuskan, oke silahkan dibawa ke Rumah Sakit untuk diperiksa. Tim yang disini (RSUD Syamrabu) juga terkoordinasi dengan tim satgas penanganan Corona RSUD Dr. Soetomo. Jadi, mulai siang tadi sudah komunikasi dengan Soetomo sehingga kita tidak memutuskan sendirian,” tandasnya.

Karena pasien ini masih dalam pengawasan, ketika masuk Rumah Sakit maka diterima dengan kewaspadaan yang ketat. “Sehingga teman-teman memakai alat pelindung diri yang lengkap untuk jaga-jaga. Kita kan perlu waspada, jangan sampai karena keteledoran itu malah membahayakan masyarakat,” paparnya.

Menurut Catur, sesampainya di rumah sakit, pasien tersebut masuk ruang isolasi IGD untuk pemantauan. Karena Datanya belum lengkap, tim kemudian melengkapi dengan data pemeriksaan laboratorium termasuk fhoto thorax. Hasil pemeriksaan kemudian dianalisa disertai keterangan riwayat kesehatan dari keluarga pasien.

“Ternyata pak N (inisial pasien) sebelumnya sudah punya riwayat sesak. Sudah pernah ke poly paru di rumah sakit ini, yang tim kita dapatkan dari hasi fhoto Rontgen didapatkan adanya infeksi paru-paru disebelah kiri. Dari hasil lab-nya didapatkan hasil yang mengarah pada infeksi bakterial,” tandasnya.

Jadi pneomoni itu ada infeksi virus dan ada infeksi bakterial. Kalau virus Corona itu infeksi karena virus. “Tapi kalau bapak ini (pasien atas nama N)  lebih mengarah karena bakteri.” Ujarnya menerangkan.

Hasil lab tersebut tidak diputuskan sendiri tetapi berkoordinasi dengan RSUD Dr Soetomo untuk dilakukan klarifikasi. Setelah dianalisa dan hasil diskusi RSUD Dr Soetomo Surabaya maka diputuskan kasus ini masuk dalam kategori pneumoni biasa (pneumoni karena bakteri) dan Asma berdasarkan hasil diagnosa.

Catur mengaku tidak mengetahui kenapa viral dan tidak tahu siapa yang memvideokan karena didalam IGD tersebut banyak pasien lain atau keluarga lain,”Dari hasil diskusi dengan RSUD Dr Soetomo kita rawat di rumah sakit dan kita obati. Karena saya tadi juga memeriksa sendiri, kondisinya masih stabil tensi masih bagus dan mungkin sekarang sudah diruang perawatan biasa, ruang rawat inap namun kami tetap waspada,” tandasnya.

Catur berharap masyarakat tidak perlu cemas karena covid-19 ini dapat sembuh sendiri (self limited diseas).

Cara penularannya melalui Drop lite jadi kalau ada close contact dalam jarak sekitar 1,5 meter itu yang berbahaya karena virus tersebut keluar pada saat penderita bersin atau batuk.

Reporter : Ahsan