
Pada acara perkumpulan, juga dilakukan upacara adat tahunan dengan melakukan tarian adat (Tortor) dan simbolis yang di iringi Tim musik Gondang dan Suling, agar selalu diberkahi dalam kebersamaan sebagai tradisi Simalungun agar tidak hilang meskipun di perantauan atau di negeri orang.
“Jadi setiap tahun kita mengadakan pesta ini tujuannya untuk menjaga kebersamaan, melestarikan adat istiadat di dalam bineka tunggal ika,” katanya.
Selain itu, lanjut Gondut, kegiatan ini untuk mengingatkan pada kampung halaman dan tali silahturahmi di tanah Jawa seperti acara setiap bulan di adakan nya arisan secara bergantian masing masing rumah anggota.
“Jadi, kita tetap mengingat dimana kita lahir, kita ingin melestarikan budaya kita, kalaupun berada di tanah Jawa, tetapi budaya kelahiran kita tetap terjaga. Tetap menjaga persaudaraan dan kerukunan seperti acara yang kami adakan sebulan sekali, yakni acara arisan sambil makan makan secara bergantian di rumah anggota hasadaon. Itu yang kami harapkan,” papar pengusaha muda ini.

Bona Tahun yang artinya pesta buka tutup tahun, memang dilakukan rutin setahun sekali, yang biasannya di awal tahun antara Febuari dan bulan Maret.
Hadir pada kegiatan ini seluruh marga Saragih yang berada di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto
“Kita menutup tahun 2017 yang penuh berkat dan membuka tahun 2018, harapannya lilih melimpah kepada kita di komunitas orang Batak Simalungun Punguan marga Saragih laki-laki, kalau perempuan boru Saragih. Jadi kita dari laki-laki borunya saragih yang istrinya Saragih juga bergabung sama keponakannya Saragih inilah yang berkumpul ini ( Hasadaon Saragih)”, terang Gondut.
Di Surabaya, ada sekitar 50 keluarga atau sekitar 125 jiwa, jadi boleh dibilang mayoritas yang bermarga Saragih semuanya. Tidak itu saja, komunitas ini terdapat semua lintas agama, baik yang beragama Islam, Kristen maupun Hindu.
Sebenarnya jauh sebelum agama-agama masuk ke Tanah Batak, orang Batak sudah memiliki agama dan kepercayaannya sendiri. Namun sama dengan daerah lainnya di nusantara ini oleh pemerintah Indonesia hanya digolongkan dalam kepercayaan tidak termasuk agama.
“Jadi tidak semuanya Kristen, ada Islam adapun juga Hindu, kita menjadi satu, itu mungkin visi dan misi dari pesta tahunan ini,” pungkas bapak beranak tiga.(Jhon Saragih)





