Puisi Kidung Tengger, Hiasi Kemeriahan Eksotika Bromo 2017

Suasana kegiatan eksotika Bromo dengan tampilan seni yang memaukau pengunjung Kasodo 2017

Wartapos-Probolinggo,

Hamparan lautan pasir Gunung Bromo, menjadi saksi digelarnya momen Eksotika Bromo, Jum’at (7/7/2017) sore. Meski baru pertama kali diselenggarakan, pagelaran yang digelar selama 2 (dua) hari ini cukup menarik perhatian penikmat dan pemerhati seni serta budaya baik local maupun nasional.

Suasana kegiatan eksotika Bromo dengan tampilan seni yang memaukau pengunjung Kasodo 2017
Suasana kegiatan eksotika Bromo dengan tampilan seni yang memaukau pengunjung Kasodo 2017

Ketersediaan tempat duduk yang disediakan panitia ternyata tidak dimanfaatkan oleh pengunjung even tersebut. sebab banyak pengunjung lebih memilih untuk menyaksikan dari berbagai posisi strategis di sekitar arena pagelaran. Banyak pengunjung yang memilih untuk menyaksikannya dengan berdiri sambil sesekali mengambil momen gambar dari kesenian tersebut. Ribuan pengunjung bahkan memilih duduk santai beralaskan pasir dan rumput kering di bukit yang berhadapan langsung dengan kaldera Gunung Bromo sebagai tempat pertunjukan. Tak hanya wisatawan domestik dan warga sekitar Gunung Bromo, cukup banyak juga wisatawan asing ikut menikmati pagelaran ini. Diawali dengan pertunjukan kesenian lokal Jaranan Jetak menyambut kedatangan pengunjung yang akan masuk ke arena pagelaran. Kemudian dilanjutkan atraksi musik Daul Dakera dari Pamekasan Madura yang cukup interaktif mengajak tamu undangan menari bersama. Alhasil Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin dan Kasdim 0820 Probolinggo Mayor Inf. Teguh Hery Wignyono serta beberapa tamu undangan yang lain ikut menari mengikuti alunan musik yag dimainkan Daul Sakera. Pertunjukan musik yang atraktif dan interaktif juga ditampilkan oleh musik Jegog Suar Agung dari Jembrana, Bali yang menggunakan alat musik tradisional dari bambu. Mereka menyebut musik yang hanya menggunakan empat nada itu sebagai musik petani. Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE berkesempatan untuk ikut serta dalam pertunjukan tersebut sebagai konduktor yang memandu nada-nada yang harus dimainkan oleh para pemusik. Daerah tetangga Probolinggo, Lumajang juga ikut menampilkan kesenian tradisionalnya yaitu tari Mahameru dan tari Jaranan Slining sebagai tari penyambutan. Pada kesempatan tersebut Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Wiratno, membacakan memori Raffles yang ada dalam buku The History of Java. Buku yang ditulis 200 tahun yang lalu ini antara lain mengisahkan kehidupan masyarakat suku Tengger pada masa itu. Bupati Probolinggo Tantriana Sari pada sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Eksotika Bromo yang memang sengaja digelar menyongsong dan memeriahkan perayaan Yadnya Kasada tahun ini. Secara khusus Bupati Tantri menyampaikan terima kasih kepada warga Desa Jetak Kecamatan Sukapura yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Jetak yang telah berinisiatif melakukan sinergi dengan berbagai pihak demi terselenggaranya pagelaran seni budaya tersebut. Suasana kaldera Bromo sore itu mendadak khidmat saat Prita Kartika tampil menyanyikan lagu “Tanah Air” dan mengaja seluruh penonton untuk ikut menyanyi bersama sambil bergandengan tangan. Kekuatan vokal kontenstan The Voice Indonesia tersebut sanggup menghipnotis semua pengunjung hingga terhanyut dalam tema lagu yang sangat nasionalis dan mengajak kita untuk selalu mensyukuri nikmat kekayaan alam dan seni budaya tanah air. Antusias pengunjung untuk terus menyaksikan pagelaran hingga usai sangat terlihat. Terlebih di bagian akhir disuguhkan sendra tari kolosal Kidung Tengger yang mengisahkan asal muasal Suku Tengger. Dibawah temaram senja dengan hiasan tata lampu nan apik, Sendra tari yang melibatkan ratusan penari ini nampak semakin menarik untuk disimak. Pagelaran semakin istimewa dengan penampilan artis multitalenta Ayushita yang membacakan puisi Kidung Tengger. Kehadiran artis ibu kota personel grup vokal Bukan Bintang Biasa (BBB) ini memang menjadi salah satu daya tarik Eksotika Bromo, disamping Sha Ine Febriyanti yang tampil pada pagelaran hari berikutnya. Pemeran Putri pada sitkom “The East” yang tayang di salah satu TV swasta nasional ini memang tampil sebentar saja, namun kehadirannya sanggup mencuri perhatian para penikmat seni dan pemerhati dunia hiburan tanah air yang datang sore itu. Tak sedikit pengunjung yang mengajaknya foto bersama usai sesi wawancara dengan media. Eksotika Bromo yang berlangsung dua hari ini, Jumat-Sabtu (7-8/7/2017) sore. Secara total menyuguhkan atraksi seni budaya dari beberapa daerah sebagaimana hari pertama yaitu Daul Sakera, Jegog Suar Agung dan Tari Topeng Gunungsari Tengger. Di hari kedua ini ada tambahan penampilan Reyog Ponorogo dan Tari Pepe’ Pepe’ Bainea Ri Gowa, Sulawesi Selatan. Sementara Puisi Kidung Tengger dibacakan oleh budayawati dan artis Ibukota, Sha Ine Febriyanti. Sebagai event yang baru pertama kali digelar memang masih banyak pembenahan yang harus dilakukan untuk pagelaran sejenis berikutnya. Namun secara umum kehadiran Eksotika Bromo di lautan pasir Gunung Bromo jelang Yadnya Kasada itu bisa dibilang sukses. Setidaknya Eksitika Bromo semakin memperkaya khazanah seni budaya Kabupaten Probolinggo pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Yang jelas, semakin banyak suguhan atraksi seni budaya yang bisa disuguhkan pada wisatawan yang datang ke ke Gunung Bromo. Yang menarik, adalah kehadiran Mbah Siswo salah satu Sesepuh masyarakat Tengger, tepatnya di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura yang mengisi acara penyematan iket/udeng dan sarung khas Tengger kepada Rudi Hardiono, Direktur Operasional Bank Jatim yang merupakan sponsor utama Eksotika Bromo 2017. Sebagai sesepuh Mbah Siswo sangat mendukung dan merestui apa yang digagas oleh para pemuda Tengger ini. “ Menurut saya pergelaran seni budaya menjelang perayaan Yadnya Kasada pasti akan lebih menarik minat wisatawan, tontonanya sangat bagus dan menghibur, Kasodo tahun kali ini pasti akan jauh lebih ramai,” ungkap Mbah Siswo. (Rul/Tim/Adv)